Sehari Jadi Akuntan, Emang Ngapain Aja Sih?

Sehari Menjadi Akuntan: Di Balik Angka-Angka yang Tak Pernah Bohong

Pagi baru saja dimulai ketika notifikasi email masuk beruntun di layar laptop. Kopi masih mengepul, tapi pikiranku sudah mulai berpacu. Seperti biasa, aku membuka kotak masuk—email dari klien, notifikasi deadline laporan, dan permintaan revisi dari minggu lalu. Tak lama kemudian, tim keuangan berkumpul di ruang meeting kecil untuk briefing pagi.

“Prioritas hari ini: closing laporan bulanan dan cek jurnal transaksi!” seru manajer keuangan kami. Semua langsung membuka laptop, menyiapkan data, dan mulai menyusun strategi. Di dunia akuntansi, pagi hari bukan waktu untuk santai. Ini adalah momen penting untuk menyusun puzzle angka dengan presisi tinggi.

Menyusun Jurnal, Menyulam Ketelitian

Usai briefing, aku tenggelam dalam angka-angka. Input data transaksi dimulai—dari Excel hingga MYOB, semua harus diperbarui. Ada pemasukan dari penjualan, pengeluaran operasional, hingga kas kecil yang kadang suka luput. Setiap jurnal dicermati. Di sini, ketelitian bukan cuma keharusan, tapi harga mati. Satu angka saja meleset, bisa-bisa neraca keuangan berantakan dan menimbulkan kesalahan yang berantai.

Rekonsiliasi: Mencocokkan Kenyataan dengan Catatan

Menjelang siang, tiba saatnya rekonsiliasi bank. Ini bagian paling menantang—mencocokkan data rekening dengan pencatatan internal. Setiap selisih sekecil apa pun harus dicari tahu penyebabnya. Setelah itu, aku mulai menyusun laporan keuangan: Laba Rugi, Neraca, dan Arus Kas. Semuanya harus balance. Tak ada ruang untuk spekulasi, hanya data dan fakta.

Siang Menjelang Sore: Angka Bertemu Analisis

Sore hari dihabiskan dalam diskusi. Bersama manajer keuangan, kami membedah laporan—menganalisis rasio, membahas efisiensi biaya, hingga merancang anggaran untuk kuartal berikutnya. Kadang rapat bisa molor, apalagi kalau ada laporan mendesak. Tak jarang lembur jadi teman akrab, terutama menjelang audit atau akhir bulan.

Realita Menjadi Akuntan

Banyak yang mengira akuntan itu pekerja kantoran yang duduk diam dengan kalkulator. Padahal, menjadi akuntan berarti hidup bersama data, tenggat waktu, dan tanggung jawab besar. Harus rapi, terstruktur, dan sabar. Tapi di balik semua itu, akuntansi memberiku kemampuan memahami aliran keuangan secara mendalam—sebuah bekal hidup yang tak ternilai.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *